Dilema Minum Kopi Saat Puasa, “Booster” Energi yang Kadang Bikin Beser
Jakarta – Bagi sebagian orang, kopi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian. Namun saat bulan puasa tiba, kebiasaan ini kerap menimbulkan dilema. Di satu sisi, kopi dikenal sebagai “booster” energi yang membantu mengusir kantuk. Di sisi lain, efeknya yang dapat memicu buang air kecil lebih sering membuat sebagian orang ragu untuk mengonsumsinya saat sahur maupun berbuka.
Kopi dan Efek Stimulan Kafein
Kopi mengandung kafein, zat stimulan yang bekerja dengan merangsang sistem saraf pusat. Konsumsi kafein dapat meningkatkan kewaspadaan, memperbaiki suasana hati, dan membantu seseorang merasa lebih segar dalam waktu singkat.
Itulah sebabnya banyak orang tetap memilih minum kopi saat sahur agar tidak mengantuk sepanjang hari. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa kafein sebenarnya tidak menambah energi secara nyata, melainkan hanya menekan rasa lelah untuk sementara waktu.
Efek Diuretik yang Bikin “Beser”
Salah satu alasan kopi sering dihindari saat puasa adalah sifat diuretiknya. Kafein dapat meningkatkan produksi urine dan merangsang kandung kemih, sehingga seseorang menjadi lebih sering buang air kecil.
Dalam kondisi normal, efek ini mungkin tidak terlalu mengganggu. Namun saat berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan selama belasan jam. Akibatnya, frekuensi buang air kecil yang meningkat bisa mempercepat risiko dehidrasi dan memicu rasa haus lebih awal.
Risiko bagi Lambung dan Jantung
Selain meningkatkan frekuensi buang air kecil, konsumsi kopi saat perut kosong juga dapat memicu kenaikan asam lambung. Bagi penderita maag atau gangguan lambung lainnya, kondisi ini bisa menyebabkan perih dan mual selama menjalani puasa.
Tak hanya itu, sebagian orang yang sensitif terhadap kafein dapat mengalami jantung berdebar atau gelisah. Kondisi ini tentu dapat mengganggu kenyamanan selama beraktivitas di siang hari.
Waktu Terbaik Minum Kopi Saat Puasa
Jika tetap ingin menikmati kopi selama bulan puasa, para ahli menyarankan untuk mengonsumsinya saat berbuka, bukan saat sahur. Hal ini memberi kesempatan tubuh untuk kembali mendapatkan cairan setelahnya.
Membatasi konsumsi satu cangkir per hari serta memperbanyak minum air putih juga dianjurkan untuk mengurangi risiko dehidrasi. Selain itu, menghindari kopi yang terlalu pekat atau tinggi gula dapat membantu menjaga kondisi tubuh tetap stabil.
Bijak Mengelola Kebiasaan
Bagi mereka yang terbiasa minum kopi setiap hari, menghentikan konsumsi secara mendadak juga bisa menimbulkan sakit kepala akibat gejala putus kafein. Oleh karena itu, mengurangi secara bertahap sebelum memasuki bulan puasa bisa menjadi solusi.
Pada akhirnya, keputusan untuk minum kopi saat puasa kembali pada kondisi masing-masing individu. Selama dikonsumsi secara bijak dan tidak berlebihan, kopi masih bisa dinikmati tanpa harus mengganggu kelancaran ibadah puasa.
